Cari Artikel

Showing posts with label Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Rasulullah. Show all posts

Wednesday, February 5, 2020

Kasih Sayang Terhadap Anak

Menyayangi dan bersikap ramah terhadap anak merupakan akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau sebagai teladan teragung dan pendidik pertama. Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah ﷻ berfirman tentang diri beliau:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (Al-Qalam: 4)

Rasulullah ﷺ sendiri telah bersabda:

"Barangsiapa terhalang dari kasih sayang, maka ia terhalang dari kebaikan seluruhnya." (HR. Muslim, No. 2592)

Beliau juga bersabda:

"Barangsiapa tidak mengasoho, maka ia tidak akan dikasihi." (HR. Bukhari, No. 5997)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, "Seorang laki-laki datang menghadap Nabi ﷺ bersama seorang anak, ia mendekap anak itu. Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah kamu menyayanginya?" Laki-laki itu menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Allah lebih sayang terhadapnya daripada kamu, Dialah Yang Maha Penyayang." (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Seorang perempuan datang menemui Aisyah. Aisyah memberinya tiga butir kurma. Si perempuan memberikan satu butir kurma kepada masing-masing anaknya dan menyisakan satu butir kurma untuk dirinya sendiri. Anak-anak memakan dua butir kurma. Keduanya memandang ke arah  ke arah ibu. Sang ibu mengambil kurma dan membelahnya menjadi dua, lalu memberikan separuh kurma kepada masing-masing anak. Nabi ﷺ datang lalu Aisyah menceritakan kepada beliau apa yang terjadi. Beliau bersabda, "Apa yang membuatmu heran dari kejadian itu? Sungguh Allah telah menyayangi si perempuan, karena kasih sayangnya kepada anak-anaknya." (HR. Bukhari)

Dan apabila Nabi ﷺ melihat seorang anak menghadapi sakratul maut dan nyawa hendak dicabut dari tubuhnya, air mata bercucuran dari kedua mata beliau karena sedih dan sayang kepada si anak, serta untuk mengajarkan kepada umat sikap lembut dan kasih sayang.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, ia berkata, "Putri Nabi ﷺ mengirim utusan kepada ayahnya (untuk menyampaikan), 'Bahwasanya anakku tengah menghadapi sakratul maut, maka saksikanlah kami.' Lalu Nabi ﷺ mengirim utusan, beliau mengirim salam kepadanya dan berpesan, "Sesungguhnya milik Allahlah apa yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu yang ada di sisi-Nya memiliki ajal tertentu. Karena hendaklah ia bersabar dan mengharapkan pahala."

Si anak perempuan kembali mengirim utusan, ia bersumpah agar beliau datang kepadanya. Beliau berangkat bersama Sa'ad bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lagi. Si anak diangkat kepada Nabi ﷺ. Beliau mendudukannya di pangkuannya dan badannya pun bergetar, maka kedua mata beliau berlinangan air mata. Sa'ad berkata, "Wahai Rasulullah, apa artinya ini?" Beliau bersabda, "Ini adalah kasih sayang yang Allah ciptakan di hati hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Allah mengasihi hamba-Nya yang penuh kasih." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hiburan yang diberikan Rasulullah ﷺ kepada saudara laki-laki Anas, ketika beliau bersabda kepadanya untuk mencandai dan menghiburnya, "Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan Nughair (burung kecil)? 

Riwayat ini adalah sejumlah kecil tauladan dari akhlak Rasulullah ﷺ. Seyogyanya setiap muslim meneladani perbuatan, pergaulan dan setiap sisi kehidupan beliau.

Sumber: Kitab Al-Hadyu An-Nabawi fi Tarbiyah Al-Aulad fi Dhau' Al-Kitab wa Sunnah - Panduan Lengkap Tarbiyatul Aulad, Dr. Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Penerbit Zam Zam hal. 152-153 

Tuesday, January 14, 2020

Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 3: Gelar Ash-Shiddiq dan Tanggapan Kaum Quraisy - Selesai)

Setelah itu, Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Mekkah al-Mukarramah. Pada pagi harinya, beliau berada di tengah-tengah kaum beliau untuk memberitahukan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Allah yang Allah perlihatkan kepadanya. Mereka justru semakin mendustakan dan menyakiti beliau. Sebagian ada yang bertepuk tangan, dan ada pula yang menaruh tangan di atas kepala dengan merasa aneh dan mengingkari.

Beberapa orang kemudian menghampiri Abu Bakr Ash-Shiddiq dan menyampaikan hal itu kepadanya. Abu Bakr berkata, "Jika memang beliau berkata seperti itu, berarti beliau benar." Mereka berkata, "Apa kau percaya padanya tentang hal itu?" Abu Bakr menyahut, "Aku percaya pada beliau terkait hal yang lebih jauh dari itu. Aku selalu percaya kepada beliau atas berita dari langit baik pada pagi maupun petang hari." Karena itulah Abu Bakr disebut Ash-Shiddiq.

Orang-orang kafir kemudian menguji beliau. Mereka meminta beliau untuk menyebutkan ciri-ciri Baitul Maqdis. Beliau belum pernah melihat Baitul Maqdis sebelumnya. Allah menampakkan Baitul Maqdis di hadapan beliau sehingga beliau melihatnya dengan mata kepala beliau. Beliau kemudian memberitahukan kepada mereka seperti apa ciri-cirinya. Beliau menyebutkan pintu-pintu dan tempat-tempat Baitul Maqdis satu per satu, hingga mereka tidak bisa membantahnya. Bahkan mereka  berkata, "Demi Allah, ia benar dalam menyebut ciri-cirinya."

Mereka juga bertanya kepada beliau ﷺ tentang kafilah milik mereka yang datang dari Syam. Beliau memberitahukan berapa jumlah unta kafilah tersebut, bagaimana kondisinya, kapan kafilah ini tiba, dan unta apa yang ada dibarisan depan kafilah. Apa yang beliau beritahukan ini terjadi sama persis seperti yang beliau katakan. Namun, orang-orang zalim tetap ingkar.

Pada pagi harinya setelah malam Isra', Jibril datang dan mengajarkan tata cara shalat lima waktu dan waktu-waktunya kepada Nabi ﷺ. Sebelumnya, shalat hanya dikerjakan dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada malam hari.

Selesai.

Oleh: Admin, Sungai Rengas, 14 Januari 2020

Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 2: Mendapatkan Perintah Shalat )

Rasulullah ﷺ mendapat perintah shalat lima puluh waktu. Beliau kembali hingga bertemulah dengan Nabi Musa. Ia bertanya, "Apa yang diperintahkan kepadamu, wahai Muhammad?" Rasul menjawab, "Shalat lima puluh waktu."

Nabi Musa kembali berkata, "Umatmu tidak akan sanggup. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untuk umatmu. Rasul melirik malaikat Jibril dan memberi isyarat kepadanya. Jibril memberi isyarat, "Sungguh benar jika kamu berkehendak." Malaikat Jibril kembali membawa Rasulullah ﷺ naik ke Arsyur Rahman, Allah ﷻ dan Dia masih di tempat yang tadi. 

Menurut riwayat yang lain, beliau diberi keringanan menjadi empat puluh waktu dan kembali bertemu Nabi Musa. Ia berkata, "Kembalilah menemui Tuhanmu, minta keringanan dari-Nya, dan terus permohonan keringanan yang diajukan Nabi Musa kepada Allah ﷻ hingga akhirnya kewajiban shalat menjadi lima waktu."

Nabi Musa kembali menyuruh Rasulullah ﷺ untuk menemui Allah ﷻ memohon keringanan. Namun Rasul menjawab, "Aku sudah malu terhadap Allah, aku ridha dan menerima (perintah ini)."

Setelah itu, terdengar sebuah seruan, "Telah Aku tetapkan, kewajiban yang telah aku fardhukan, dan telah aku ringankan (kewajiban itu) terhadap hamba-Ku."

Para sahabat berbeda pendapat perihal, apakah Rasulullah ﷺ saat di Arsy Ar-Rahman langsung melihat Allah atau tidak?

Berita yang benar adalah yang diriwayatkan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah melihatnya. Masih menurut Ibnu Abbas bahwa beliau melihatnya dengan hati. 

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh 'Aisyah dan Ibnu Mas'ud berbeda. Disebutkan bahwa makna ayat "laqad raahu nazlatan ukhra" maksudnya adalah malaikat Jibril.

Dalam hadits shahih lainnya disebutkan, dari Abu Dzar, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Apakah engkau melihat Tuhanmu?" Rasul menjawab, "Cahaya! Aku melihat cahaya. Yaitu antara aku dan cahaya yang kulihat." Seperti dalam riwayat lain disebutkan, "Aku melihat cahaya.:

Diceritakan Imam Ad-Darimi, "Para sahabat telah bersepakat bahwa Rasulullah ﷺ tidak melihat Allah ﷻ." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Perkataan Ibnu Abbas tidaklah bertentangan dengan pendapat ini. Karena pendapatnya, Rasulullah melihat Allah ﷻ dengan hatinya."

Bersambung...

Oleh: Admin, Sungai Rengas, 14 Januari 2020 

Kisah Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ (Bagian 1: Allah ﷻ menghibur Sang Nabi ﷺ )

Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan malam (Isra) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan ditemani Malaikat Jibril menggunakan Buraq. Beliau tiba di Al-Aqsha dan menjadi imam shalat para nabi. Perjalanan ini beliau lakukan dengan ruh dan jasad sebagaimana pendapat yang paling kuat tentang hal ini. Peristiwa ini, merupakan bentuk kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Allah menghibur sang Nabi di kala sang Nabi baru saja kehilangan dua sosok yang beliau cintai, yaitu istri beliau, Khadijah dan paman beliau, Abu Thalib. Maka saat-saat itu pun dikenal pula dengan tahun kesedihan.

Kendaraan buraq diikat di salah satu tiang masjid. Ada juga yang mengatakan buraq turun di Bethlehem, namun hal ini tidak benar. 

Pada malam itu juga, Rasul diangkat (Mi'raj) dari Baitul Maqdis menuju langit ketujuh (samaud dunya). Malaikat Jibril membukakan tabir, maka terbukalah. Rasulullah melihat bapak manusia, Nabi Adam. Beliau  ﷺ mengucapkan salam kepadanya. Nabi Adam pun menjawab salam beliau, menyambut dan mengakui kenabiannya.

Allah ﷻ memperlihatkan  ruh-ruh yang berbahagia dari keturunan Nabi Adam di sebelah kanan, dan memperlihatkan juga ruh-ruh yang menderita di sebelah kirinya. 

Setelah itu, beliau naik ke langit kedua. Beliau melihat Nabi Yahya dan Nabi Isa. Beliau melanjutkan perjalanan naik ke langit ketiga. Disana, beliau melihat Nabi Yusuf. Di langit keempat, beliau melihat Nabi Idris. Setelah itu, beliau naik ke langit kelima dan bertemu Nabi Harun. 

Di langit keenam, beliau melihat Nabi Musa. Ketika menemuinya Nabi Musa menangis. Beliau bertanya, "Mengapa engkau menangis?" Nabi Musa menjawab, "Aku menangis karena ada seseorang yang diutus menjadi Nabi setelahku, umatnya masuk surga lebih banyak dibandingkan umatku."

Beliau naik kembali ke langit ketujuh dan bertemu Nabi Ibrahim. Akhirnya beliau diangkat ke sidratul muntaha kemudian naik kembali ke al-bait al-ma'mur hingga tiba di singgasana Arsyur Rahman, Allah ﷻ; mendekat kepada-Nya; begitu dekat. Jaraknya dua busur panah atau lebih dekat lagi. Karena itu, diwahyukan kepada hamba-Nya apa yang seharusnya diwahyukan.

Bersambung... 

Oleh: Admin, Sungai Rengas, 14 Januari 2020

Wednesday, January 1, 2020

Pentingnya Belajar Sirah Rasulullah ﷺ

Bismillah. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah senantiasa kita panjatkan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ. Baik wanita atau laki-laki, dewasa atau anak-anak, ulama maupun awam, pemimpin perusahaan ataupun karyawan - seluruh orang Islam perlu untuk belajar biografi Rasulullah ﷺ. Karena faktanya, banyak dari kewajiban ibadah dan aktifitas kita dalam Islam merujuk pada pengetahuan kita tentang kehidupan beliau ﷺ. Sebagai contoh, setiap muslim hendaknya mencintai Nabi ﷺ, namun bagaimana kita bisa mencintainya tanpa memiliki pengetahuan tentang diri beliau? Kita tidaklah hidup disaat Nabi ﷺ menyampaikan dakwah Islam kepada kaum Quraisy, sehingga satu-satunya cara bagaimana kita menjadi dekat dengan beliau ﷺ dan dengan konsisten mencintainya adalah dengan mempelajari perkataan serta amal perbuatan beliau. Dan bagaimana kita bisa menjadi pengikut beliau ﷺ jika kita tidak mengetahui perkataan dan amal perbuatan beliau ﷺ. Itulah sebabnya kita sangat butuh mendekatkan diri kita kepada kehidupan sang Nabi ﷺ.

Dengan mempelajari sirah (biografi Nabi), kita dapat melihat bagaimana sang Nabi adalah sosok suami yang ideal, ayah yang ideal, pemimpin yang ideal, pendidik yang ideal, hakim yang ideal dan seterusnya. Terlepas dari kondisi dan siapa diri kita, kita dapat mengambil pelajaran dari kehidupan sang Nabi ﷺ.  Jika seorang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk berdakwah (yakni seorang da'i), maka baginya mempelajari sirah Nabi adalah kewajiban. Dengan mempelajari sirah, seorang da'i belajar tentang metodologi dakwah, terlebih disaat menghadapi orang-orang yang menolak dakwah Islam dan bagaimana sang Nabi ﷺ bersabar atas segala penderitaan yang dialaminya. Banyak pelajaran serta pesan moral yang tak terhitung jumlahnya yang bisa sang da'i dapatkan dari mempelajari sirah nabawiyah. 

Jika seseorang tersebut adalah seorang pendidik, baik dirumah maupun di sekolah atau bahkan pendidik di lingkungan masyarakatnya, maka ia dapat mempelajari bagaimana sang pendidik terbaik yang pernah ada di muka bumi berhasil membangun genarasi muslim sejati, yang kemudian akhirnya membangun sebuah peradaban yang luar biasa yang pernah diketahui oleh umat manusia. Pada masa awal keislaman, para sahabat dididik di sebuah tempat terbaik di dunia yaitu Darul Arqam (tempat rahasia kaum muslimin di awal kenabian), dimana disanalah Nabi ﷺ mengajarkan al-Qur'an, tauhid, adab-adab dan lain sebagainya. Murid-murid beliau ﷺ pun berhasil lulus menjadi para pemimpin dan para pendidik pada generasi muslim berikutnya. 

Jika seseorang tersebut adalah seorang pemimpin, ia dapat mempelajari bagaimana kualitas kepemimpinan sejati dari Sirah Nabi ﷺ, yang mana beliau ﷺ adalah sosok pemimpin yang sangat adil serta bagaimana beliau dapat menyatukan kaum muslimin, bagaimana beliau menghadapi kelompok pengacau yang disebut dengan kelompok munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, dan juga bagaimana beliau ﷺ berjuang untuk negeri kaum muslimin yang lebih baik. 

Jika seseorang tersebut adalah ulama, ia dapat merujuk kepada sirah nabawiyah dalam usaha untuk memahami al-Qur'an, karena setiap sikap dan perilaku Nabi ﷺ merupakan praktek dari apa yang terkandung di dalam al-Qur'an. Lebih lanjut, banyak dari turunnya ayat-ayat al-Qur'an bermula dari peristiwa yang terjadi di masa hidup Rasulullah ﷺ. Seorang ulama hanya dapat memahami ayat-ayat al-Qur'an jika ia memahami peristiwa yang menjadi sebab ayat-ayat tersebut turun. 

Jika ia ingin menjadi muslim yang zuhud (yaitu meninggalkan segala kenikmatan dunia karena Allah), ia dapat belajar melalui sirah nabawiyah, perbedaan antara Zuhud dan Ekstrim, sehingga ia dapat menjalani hidup dengan seimbang dengan cara yang benar sebagaimana kehidupan yang dijalani oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Jika seorang muslim tertimpa musibah, ia dapat menemukan cara bersikap yang benar dari sirah nabawiyah karena tidak ada seorang pun yang tertimpa musibah mengalaminya sebesar apa yang pernah Nabi ﷺ alami. 

Maka, tidak diragukan lagi bahwa mempelajari sirah (biografi Nabi ﷺ) bagi seorang muslim adalah keharusan. Bagaimana mungkin kita bisa menjalani hidup sebagai seorang muslim tanpa mengetahui apa yang semestinya seorang muslim lakukan yang mana hanya bisa kita temukan dalam perjalanan hidup sang Nabi yang mulia, Nabi Muhammad ﷺ, melalui sirahnya. 

Diterjemahkan dan diringkas dari pengantar buku sirah, "The Noble Life of the Prophet ﷺ" karya Dr. Ali Muhammad As-Sallaabee, tahun 2001

Admin: Sungai Rengas, 1 Januari 2020